- FFD PPHT PADI GAPOKTAN AGRO MULYO PURWOREJO SUKSES DIGELAR
- DKPP Purworejo Lakukan Verval Bantuan CPPD Bagi 50 KK Terdampak Puso di Cangkrep Lor
- DKPP PURWOREJO GANDENG FOUNDER RUMAH MOCAF INDONESIA DORONG POTENSI PEMASARAN TEPUNG MOCAF
- SHARING SESSION #2 UPT PUSKESWAN BERSAMA KTNA KECAMATAN GEBANG
- Evaluasi SL Tembakau KT Rukun Tani Gowong, Perkuat Kelembagaan dan Peran Petani
- KT Rukun Tani Gowong Siapkan 2.000 m² untuk Budidaya Bawang Merah Varietas Tajuk
- PENYALURAN BANTUAN PEMERINTAH Pengembangan Ayam Petelur di Kelompok Tani Sumber Makmur desa Tersidilor Kecamatan Pituruh
- Menjaga Genetik Unggulan Purworejo, Seleksi Hibah Kambing Kaligesing Kembali Digelar
- Temu Lapang PHT Gapoktan Argo Mulyo Desa Cangkrepkidul, Petani Purworejo Siap Bentuk Regu Pengendali Hama
- Seleksi Terakhir Rampung, 51 Kelompok Purworejo Kembangkan Kambing Jawa Randu
Sehelai Daun, Sejuta Pelajaran bagi Petani Tembakau

Sehelai Daun, Sejuta Pelajaran bagi Petani Tembakau
KEMIRI KEREN NEWS — Bekas gigitan ulat yang terlihat pada beberapa daun tembakau menjadi perhatian peserta Sekolah Lapang (SL) Tembakau Pertemuan ke-5 Kelompok Tani Sido Mukti, Desa Girimulyo, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, pada Senin (6/7/2026). Temuan tersebut menjadi bahan pembelajaran bersama dalam upaya meningkatkan kemampuan petani mengenali kondisi tanaman sejak dini sekaligus menentukan langkah pengendalian yang tepat.
Kegiatan diawali dengan pengamatan langsung di lahan pertanaman tembakau. Bersama penyuluh dan narasumber, peserta mengamati pertumbuhan tanaman, kondisi lingkungan, serta keberadaan organisme pengganggu tanaman (OPT). Dari hasil pengamatan ditemukan adanya serangan ulat pada sebagian besar tanaman, petani diingatkan agar terus melakukan monitoring secara berkala sehingga pengendalian dapat dilakukan sebelum serangan berkembang lebih luas.
Setelah pengamatan lapang, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi pendangiran oleh Umul Khasunah, S.P., M.A.P., Koordinator BPP Kecamatan Kemiri. Dalam pemaparannya, Umul menjelaskan bahwa pendangiran merupakan salah satu tahapan pemeliharaan yang sangat penting untuk menjaga pertumbuhan tanaman tembakau.
"Pendangiran bukan sekadar membersihkan gulma, tetapi juga menggemburkan tanah sehingga peredaran udara di sekitar akar menjadi lebih baik. Dengan kondisi tanah yang gembur, penyerapan air dan unsur hara akan lebih optimal sehingga tanaman dapat tumbuh sehat dan menghasilkan daun yang berkualitas," jelas Umul Khasunah, S.P., M.A.P.
Usai penyampaian materi, peserta langsung mempraktikkan teknik pendangiran yang benar di lahan dengan didampingi narasumber. Praktik lapangan ini memberikan kesempatan kepada petani untuk memahami waktu pelaksanaan, kedalaman olah tanah, hingga teknik yang sesuai agar tidak merusak sistem perakaran tanaman.
Sesi berikutnya diisi oleh Sugiyo, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Kemiri, yang menyampaikan materi sekaligus praktik perbanyakan Trichoderma sebagai agen hayati pengendali penyakit tanaman.
Menurut Sugiyo, pemanfaatan Trichoderma merupakan salah satu alternatif pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan karena mampu menekan perkembangan jamur penyebab penyakit di dalam tanah.
"Trichoderma adalah mikroorganisme yang menguntungkan. Jika diperbanyak dan diaplikasikan dengan benar, Trichoderma mampu membantu menekan perkembangan jamur patogen sekaligus memperbaiki kesehatan tanah. Harapannya, petani semakin mandiri dalam memanfaatkan agen hayati sehingga penggunaan fungisida kimia dapat dikurangi," terang Sugiyo.
Pada sesi praktik, peserta diajarkan mulai dari persiapan media, pencampuran bahan, hingga proses inkubasi Trichoderma. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan mengenai cara penyimpanan, masa inkubasi, hingga teknik aplikasi yang tepat di lahan.
Kegiatan Sekolah Lapang ini menjadi wadah pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik secara langsung di lapangan. Melalui pengamatan tanaman, pendangiran yang tepat, serta pemanfaatan Trichoderma sebagai agen hayati, petani diharapkan semakin mampu menerapkan budidaya tembakau yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan.
Semangat belajar yang ditunjukkan anggota Kelompok Tani Sido Mukti membuktikan bahwa peningkatan kapasitas petani merupakan kunci dalam menghadapi berbagai tantangan budidaya. Dengan pengetahuan yang terus diperbarui dan teknologi yang semakin mudah diterapkan, petani diharapkan mampu menghasilkan tembakau berkualitas sekaligus mewujudkan pertanian yang berkelanjutan.
Bagi Sutrisno, salah seorang anggota Kelompok Tani Sido Mukti, sekolah lapang memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan penyuluhan di dalam ruangan.
"Kami tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi langsung melihat kondisi tanaman dan mempraktikkannya. Saat menemukan ulat di lahan, kami langsung belajar cara mengamatinya, kemudian memahami pentingnya pendangiran dan cara membuat Trichoderma sendiri. Ilmu seperti ini lebih mudah dipahami dan langsung bisa diterapkan," ungkapnya.
Sekolah Lapang Tembakau menjadi bukti bahwa proses belajar terbaik lahir dari pengalaman nyata. Hamparan tembakau bukan sekadar tempat menanam, tetapi ruang belajar yang mengajarkan petani untuk lebih peka terhadap setiap perubahan di lahan. Dari sehelai daun yang tergigit ulat, tumbuh pengetahuan, keterampilan, dan optimisme bahwa pertanian yang produktif dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.






