MT I di Depan Mata, Petani Kemiri Siap Bertani Modern

By DINPPKP 05 Okt 2026, 08:54:12 WIB Penyuluhan
MT I di Depan Mata, Petani Kemiri Siap Bertani Modern

MT I di Depan Mata, Petani Kemiri Siap Bertani Modern

 

KEMIRI KEREN NEWS — Musim tanam baru bukan sekadar soal kapan benih ditanam, tetapi tentang bagaimana air tersedia, pupuk siap, teknologi dimanfaatkan, dan petani bergerak dalam satu irama. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pertemuan KTNA Kecamatan Kemiri yang digelar di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kemiri, Jumat (2/10/2026).

Pertemuan yang dimulai pagi itu, secara khusus membahas persiapan Musim Tanam (MT) I Tahun 2026/2027, sekaligus menjadi ruang sosialisasi Program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) dan e-RDKK pupuk bersubsidi.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Kemiri Bapak Bambang Supriyanto, perwakilan Kepala UPT PJI Wilayah Kemiri Bapak Agus, Katimker CWS Kabupaten Purworejo Ibu Verena Saptorini, Ketua KTNA Kecamatan Kemiri Fajar Alwani, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri Umul Khasunah, penyuluh BPP Kecamatan Kemiri, serta perwakilan kelompok tani se-Kecamatan Kemiri.

Pertemuan dipimpin langsung oleh Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, yang menyampaikan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi menjadi momentum untuk menyamakan persepsi dan langkah menghadapi musim tanam.

“Pertemuan ini menjadi ruang kita bersama untuk menyatukan informasi dan langkah menghadapi MT I. Petani membutuhkan kepastian, mulai dari air, pupuk, teknologi, sampai informasi program pemerintah. Karena itu, mari kita manfaatkan pertemuan ini untuk berdiskusi dan mencari solusi bersama,” ungkap Umul Khasunah.

Rangkaian kegiatan diawali dengan materi persiapan tanam yang disampaikan oleh perwakilan UPT PJI Wilayah Kemiri, Bapak Agus. Salah satu informasi penting yang disampaikan adalah mengenai jadwal pengaliran air dari Wadaslintang yang dimulai 1 Oktober dengan debit 4 m3/detik.

Informasi tersebut menjadi perhatian penting peserta karena ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan keberhasilan MT I. Dengan mengetahui jadwal dan kondisi pengairan sejak awal, kelompok tani dapat menyusun rencana tanam secara lebih terkoordinasi.

Memasuki sesi berikutnya, Katimker CWS Kabupaten Purworejo, Ibu Verena Saptorini, memberikan sambutan sekaligus penguatan mengenai berbagai program pemerintah, khususnya program Kementerian Pertanian yang perlu diketahui dan dipahami oleh petani.

Ia menekankan pentingnya petani mengikuti perkembangan kebijakan pertanian agar program pemerintah benar-benar dapat memberikan manfaat di tingkat lapangan.

“Program pemerintah dari Kementerian Pertanian akan memberikan manfaat apabila dipahami dan dilaksanakan bersama. Karena itu, informasi jangan berhenti di tingkat pertemuan. Mari diteruskan kepada anggota kelompok tani sehingga setiap program dapat dimanfaatkan secara tepat,” pesan Ibu Verena.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah, penyuluh, KTNA, kelompok tani, dan petani menjadi kunci agar berbagai program pertanian tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pesan tentang pentingnya kebersamaan juga diperkuat oleh Camat Kemiri, Bapak Bambang Supriyanto.

Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh petani untuk menjaga kekompakan, terutama dalam menghadapi musim tanam yang membutuhkan pengaturan air, waktu tanam, sarana produksi, dan kerja sama antarpetani.

“Bertani tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kalau kita kompak, persoalan yang berat akan lebih mudah kita hadapi. Mari jaga kebersamaan, saling berkoordinasi dan saling membantu agar kegiatan pertanian di Kecamatan Kemiri dapat berjalan dengan baik,” tutur Bambang Supriyanto.

Pesan tersebut mendapat perhatian peserta. Sebab, bagi petani, musim tanam bukan hanya persoalan menanam dan memanen, tetapi juga bagaimana membangun kesepakatan bersama agar sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.

Persoalan sarana produksi juga menjadi bagian penting dalam pertemuan. Materi e-RDKK pupuk bersubsidi disampaikan oleh Bapak Whisnu, yang membahas persyaratan pendaftaran pupuk bersubsidi serta pentingnya kesesuaian data bagi petani penerima.

Pembahasan kemudian diperdalam oleh Ibu Sasmitha mengenai aturan penebusan pupuk bersubsidi yang harus dilakukan sesuai periode tanam.

Peserta mendapatkan penjelasan bahwa periode penebusan dibagi menjadi tiga, yaitu periode Januari–April, periode Mei–Agustus, dan periode September–Desember.

Penjelasan tersebut menjadi penting agar petani tidak hanya mengetahui bahwa pupuk bersubsidi tersedia, tetapi juga memahami kapan pupuk dapat ditebus sesuai ketentuan periode tanam.

“Jangan sampai petani sudah membutuhkan pupuk tetapi belum memahami periodenya. Karena itu, aturan penebusan harus dipahami bersama dan informasi ini perlu diteruskan kepada seluruh anggota kelompok tani,” menjadi salah satu penekanan dalam pembahasan materi. Dengan pemahaman tersebut, diharapkan pengelolaan pupuk bersubsidi menjadi lebih tertib, tepat sasaran, dan mendukung kebutuhan tanaman pada waktu yang tepat.

Pembahasan semakin menarik ketika peserta memasuki materi Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang disampaikan oleh Bapak Agus Nugroho.

Dalam paparannya, diperkenalkan pendekatan pertanian modern, salah satunya melalui sistem tanam benih langsung yang berpotensi mengurangi biaya tanam sekaligus meningkatkan jumlah produksi.

Bagi petani, inovasi tersebut menjadi menarik karena persoalan biaya produksi merupakan salah satu tantangan dalam usaha tani. Dengan teknologi dan metode yang lebih efisien, petani diharapkan dapat menekan biaya sekaligus meningkatkan produktivitas.

“Pertanian modern bukan berarti meninggalkan cara-cara yang sudah dilakukan petani, tetapi mencari cara yang lebih efektif, lebih efisien, dan mampu memberikan hasil yang lebih baik. Teknologi harus menjadi alat untuk membantu petani,” jelas Bapak Agus.

Materi tersebut sekaligus membuka wawasan peserta bahwa modernisasi pertanian bukan semata-mata penggunaan mesin atau teknologi canggih. Lebih jauh, modernisasi adalah perubahan cara berpikir untuk menghasilkan usaha tani yang lebih efisien, produktif, dan menguntungkan.

Air membutuhkan koordinasi. Pupuk membutuhkan ketertiban. Teknologi membutuhkan keberanian untuk mencoba. Dan semuanya membutuhkan kekompakan petani. Pada akhirnya, pertanian yang maju tidak hanya dibangun dengan benih yang baik atau teknologi yang modern, tetapi juga dengan petani yang kompak, informasi yang tepat, dan kerja bersama yang konsisten. Semoga.–





Berita Purworejo

Counter Pengunjung