- SURVEY LAPANGAN IRIGASI PERPOMPAAN TENAGA SURYA
- Dukung Petani, DKPP Purworejo Gelar Sosialisasi Sarana Usaha Tani Tembakau TA 2026
- KONSULTASI DAN KOORDINASI PROGRAM KULIAH KERJA NYATA (KKN MAHASISWA) UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
- PELATIHAN PENGAWAS KEAMANAN PANGAN SEGAR
- Jamur Tiram, Peluang Usaha yang Masih Terlupakan: KWT Sekar Tani Gowong Belajar Langsung dari Praktisi
- BPP Purworejo Dampingi Petani adakan Gerdal Tikus di Kelompok Tani Ngudi Makmur Semawung
- Lapor Langsung Direspons! Tim Keswan Purworejo Selamatkan Sapi Betina Produktif di Kedungpomahan Kulon kecamatan Kemiri
- SERENTAK! PETANI DESA MAJIR KENDALIKAN HAMA WERENG BATANG COKELAT PADA TANAMAN PADI
- Melangkah Bersama Mewujudkan Ketahanan Pangan: Sinergi DKPP dan Kelompok Tani Rimba Sari di Desa Pamriyan
- Dari Kandang ke Produk Bernilai Jual, Peternak Kambing Kaligesing Dibekali Strategi Pengembangan Susu Kambing
Wereng Punggung Putih (Sogatella furcifera) Musuh Petani Padi

Wereng Punggung Putih (Sogatella furcifera), jenis hama wereng yang merusak tanaman padi dengan cara menghisap dan menggerek batang padi sehingga menyebabkan berkurangnya bulir padi, tanaman terlihat seperti terbakar dan tanaman padi mati. Wereng menyukai pertanaman yang dipupuk Nitrogen tinggi dengan jarak tanam rapat.
Panjang wereng punggung putih sekitar 3 mm, berwarna coklat muda hitam serta sayap depan transparan dengan tanda coklat gelap diujungnya. Generasi saat terjadinya ledakan populasi wereng punggung putih disebut Generasi 0 (G0) dan setelah 25 – 30 kemudian merupakan Generasi 1. Selanjutnya pada 25 – 30 hari kemudian muncul Generasi 2 (G2).
Gejala Serangan :
• Wereng merusak tanaman padi dengan cara menghisap cairan batang padi dan dapat menularkan virus.
• Tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tanaman seperti terbakar (hopper burn)
• Gejala serangan sama seperti serangan wereng coklat.
Ada beberapa cara pengendalian, antara lain :
1. Menanam varietas tahan wereng, seperti Ciherang, Sintanur, IR 48, IR 64.
2. Pengaturan pola tanam, yaitu dengan melakukan penanaman secara serentak maupun dengan pergiliran tanaman. Pergiliran tanaman dilakukan untuk memutus siklus hidup wereng dengan cara menanam tanaman palawija atau tanah dibiarkan selama 1 s/d 2 bulan.
3. Pengendalian hayati, yaitu dengan menggunakan musuh alami wereng, misalnya laba-laba predator Lycosa Pseudoannulata, kepik Microvelia douglasi dan Cyrtorhinuss lividipenis, kumbang Paederuss fuscipes, Ophinea nigrofasciata, dan Synarmonia octomaculata.
4. Memberikan pupuk K untuk mengurangi kerusakan.
5. Memonitor populasi hama tiap seminggu sekali dan paling lambat 2 minggu.
6. Menggunakan Agens Hayati Beauveria bassiana dan Nomuraea rileyi. Penyemrotan saat pembibitan umur 10 hari setelah sebar (HSS), dan tanaman umur 40 hari setelah tanam (HST).
BPP Purwodadi






